Monday, April 30, 2018

(Madi Ar-Ranim, et, al, 2015)

Jabodetabek adalah wilayah yang sering mengalami benjana banjir.Banjir di Jabodetabek
sering mengejutkan, tinggi air mampu menenggelamkan rumah penduduk.Banjir yang terjadi
sejak 2002 sampai saat ini benar-benar mengejutkan warga, sekitar 10.000 hektar
permukiman warga digenangi banjir. Ibu kota lumpuh, bahkan dibeberapa tempat
kedalaman air hingga empat meter. Korban jiwa yang ditimbulkannya mencapai kurang
lebih delapan puluh orang, dengan kerugian ekonomi langsung sekitar Rp 5,4 triliun. Belum
lagi dampak ekonomi yang tidak langsung, diperkirakan mencapai Rp 4,5 triliun.
Banjir dengan skala luas kembali berulang tahun 2007. Meski tak separah tahun 2002,
tapi akibat yang ditimbulkannya cukup luas. Setidaknya 60% wilayah Jabodetabek
digenangi air, 150.000 jiwa warga harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi.
Kejadian ini benar-benar merepotkan warga, mereka tak dapat bergerak akibat terjangan
banjir. Banjir semacam ini memang semakin kerap mengunjungi kota metropolitan yang
merata hampir di seluruh kota. Maklum, disamping dekat dengan pantai, tinggi muka tanah di
daerah ini juga berada dibawah permukaan laut.

Untuk menyelesaikan masalah banjir di Jabodetabek memang bukan perkara mudah.
Sejak jaman Belanda, pemerintahan kolonial sudah sering diganggu oleh air. Dalam catatan
sejarah, Jabodetabek sudah merasakan banjir besar pada tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan
1876. Kerepotan mengurusi banjir, tahun 1922 pemerintah Belanda merasa perlu untuk
membangun Banjir Kanal Barat. Sayangnya semakin hari, masalah banjir semakin kompleks
saja. Penyelesaian yang diambil selalu kalah cepat dengan permasalahan yang muncul. Untuk
mengatasi dan mengurangi risiko yang terjadi akibat banjir menenggelamkan rumah warga
maka dibuatlah suatu bangunan atau rumah yang menggunakan sistem struktur jack up.
Struktur jack-up merupakan suatu perpaduan antara anjungan terpancang (fixed structure)
dengan anjungan terapung (floating structure), dimana struktur ini memiliki kelebihanpada
struktur kakinya yang dapat dikendalikan (dinaikkan atau diturunkan) sesuai dengankondisi
perairan tempat beroperasinya. Kelebihan lainnya dibandingkan dengan anjunganterapung
adalah dengan kondisi terpancang, struktur jack-up memiliki sistem operasi yanglebih efisien
tanpa banyak waktu terbuang karena pengaruh lingkungan yang ada. Apabiladibandingkan
dengan anjungan yang terpancang, struktur jack-up dapat dengan mudah dipindahkan dari
satu lokasi ke lokasi yang lain.

Jadi, dari penjelasan di atas dapat dibuat J-House suatu rumah masa depan yang dapat
dikendalikan (dinaikan atau diturunkan) layaknya jack-up. Rumah tersebut menggunakan alat
crane operator untuk menaikan dan menurunkan. Saat hujan tiba, bangunan akan segera
dinaikan supaya tidak tenggelam oleh derasnya air, kemudian jika hujan sudah reda dan
banjir sudah mulai surut maka banguanan tersebut akan diturunkan menjadi posisi semula.
Diharapkan dengan dirancangnya J-House ini, dapat digunakan sebagai alternatif solusi
atas tingginya angka penambahan pemukiman di daratan yang tenggelam akibat bencana
banjir.

Selanjutnya bisa hubungi di Instagram: @madi_arranim (jangan lupa di follow).
Share dan Komen juga yah di bawah agar bermanfaat bagi yang lainnya. Terima aksih

0 komentar:

Post a Comment

Madi’s quotes


"Berkaryalah Selama Anda Masih Diberikan Nikmatnya Hidup Dan Menulislah Selama Anda Masih Diberikan Indahnya Kehidupan"— Madi Ar-Ranim

Visitors

Visitor Country

Flag Counter

Popular Posts

Visitor Country Map

Flag Counter