Monday, December 22, 2014

(DRAMA ANAK)

A.   Nama Pemain dan Karakter
1.     Paulo : Tokoh utama yang sangat berbakti kepada sang ibunda, ia senang menggoreskan kisah cita bersama ibunda di dalam lembaran-lembaran pena di Negeri Merah Putih (Indonesia)
2.    Ibunda : Ibu kandung Paulo yang telah lama bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Negeri Jiran (Malaysia) untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk menyekolahkan Paulo.
3.    Rian : Paman dari Paulo yang menemaninya selama sang Ibunda pergi di Negeri Jiran. Rian mempunyai karakter yang lemah lembut dan perhatian terhadap Paulo.
4.    Anisa : Sahabat karib Paulo berasal dari kampung halaman yang sama. Ia  selalu mewarnai hidup Paulo. Anisa pun selalu membawa nasi rendang untuk Paulo disaat menggembala kambing dan selalu mengajak paulo bermain.
5.    Fikri : Sahabat karib Paulo yang berasal dari kota. Ia selalu mensupport Paulo untuk menjadi penulis yang inspiratif. Ia pun orang yang sangat kaya raya dan sering berlibur di Negara tetangga.

B.    Naskah Drama
@ Di sudut sebuah Desa yang jauh dari keramain kota, hiduplah seorang anak laki-laki kecil yang jauh dari sang Ibunda. Setiap harinya, sang anak menggembala kambing sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang. Sambil menghirup udara segar, sang anak berharap agar sang Ibunda diberikan nasib yang baik di Negeri Jiran. Paulo namanya, ia selalu menggoreskan kisah cita sang Ibunda di dalam lembaran-lembaran pena. Baginya, Ibunda adalah sosok pembeda yang dapat mengukir cita. Berikut ini sajian kisah cita paulo di Negeri Merah Putih.

@ Adegan 1
Sepulang sekolah, seperti biasanya paulo pergi menggembala kambing di sawah, sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang.
Paulo : “Mbe... mbe... mbe... kemarilah lah kau!” (sambil membawa segenggam rumput).
          Tiba-tiba datanglah Anisa dari arah belakang dengan membawa sebungkus nasi rendang.
Anisa : “Assalamualaikum Paulo?”
Paulo : “Walaikumsalam Anisa. Maaf Nis untuk saat ini saya tidak bisa diganggu, saya lagi sibuk.”
Anisa : “yah... Ul.. ul..., padahal saya ingin bermain bersamamu dan kambingmu yang lucu-lucu itu, hehe... oh yah ini saya bawakan sebungkus nasi rendang, makanan kesukaanmu, Mau?” (dengan wajah yang penuh harap)
Paulo : “saya kan sudah bilang Nis, saya lagi sibuk, jadi maaf yah jangan ganggu saya. Ok! (dengan wajah yang kesal)
Anisa : “hmmm... kenapa ni anak, ko tumben amat yah?” (bergumam di dalam hati). Oke deh kalau begitu saya tunggu saja di bawah pohon yah, nanti kita makan bareng, ok!” (dengan wajah yang ceria dan penuh tanya)
Paulo : “terserah kamu deh Nis” (sambil menggelengkan kepala)

@ Adegan 2
Setelah beberapa jam Anisa menunggu di bawah pohon rindang, Anisa pun tertidur lahap sambil memeluk nasi rendang. Tak lama kemudian, Paulo pun menghampiri Anisa yang sedang tertidur.
Paulo : “Anisa... Anisa... Anisa..., (memanggil dengan wajah ceria sambil lari-lari kecil menuju pohon), Anisa bangun... bangun nis... bangun”
Anisa : “emmmmm... ada apa sih Ul..?, saya ngantuk banget nih” (sambil mulet)
Paulo : “aduh... ayolah bangun Nis, barusan saya melihat pesawat terbang dari arah Malaysia, saya yakin itu pasti Ibu” (sambil tersenyum bergembira)
Anisa : “emangnya kamu tahu dari mana itu pesawat datang dari Malaysia?, hmmm... mungkin saja dari Singapura, Thailand atau bahkan dari Jerman” (dengan wajah penuh tanya)
Paulo : “hmmmm (muka kesal), tapi saya yakin ko, ketika Ibu pergi ke Malaysia itu berangkatnya ke arah sana Nis” (sambil menunjuk arah dengan jari telunjuk bagian kanan).
Anisa : “ohh gitu yah, terserah kamu deh, tapi jika memang itu Ibumu, apakah kamu sudah ada kabar bahwa Ibumu pulang hari ini?”
Paulo : “gak ada sih Nis, tapi entahlah hati saya mengatakan bahwa itu Ibu” (dengan muka murung dan penuh harap)
Anisa : “yah sudah, itu artinya kamu terlalu banyak berfikir tentang ibumu, banyak saja berdoa kepada Allah SWT. supaya Ibumu diberi keselamatan di Malaysia. Ok!”
Paulo : “ iyah Nis, mungkin saya terlalu banyak memikirkan Ibu. Saya sedih Nis sudah tiga tahun lamanya ditinggal Ibu, saya kangen Ibu” (dengan wajah sedih)
Anisa : “ya sudah, mari kita berdoa bersama untuk kebaikan Ibumu di Malaysia”
Paulo : “mari Nis kita berdoa (sambil mengangkat kedua belah tangannya). Ya Allah tolong lindungi Ibu yang sedang bekerja di Malaysia, berikanlah kekuatan untuk Ibu, selamatkan Ibu ya Allah. Saya rindu Ibu, saya ingin bertemu dengan Ibu, tolong pertemukanlah saya dengan Ibu ya Allah. Aamiin ya Allah!”
Anisa : “Aamiin ya Rabbal Alamin”

@ Adegan 3
Hari semakin sunyi, matahari pun telah meninggalkan sinarnya menuju ufuk barat, binatang-binatang ternak yang berkeliaran kini kembali ke kandangnya, sedangkan burung-burung berkicauan menemani sunyinya malam ini. Anisa dan Paulo pun beranjak pulang di rumahnya masing-masing.
Anisa : “sampai bertemu besok pagi di sekolah yah Ul, assalamualaikum!”
Paulo : “iyah nis, waalaikumsalam, hati-hati di jalan yah” (memberikan senyuman persahabatan)
Anisa : “iyah kamu juga hati-hati di jalan” (membalas senyuman).
              Tibalah Paulo di depan pintu rumah
Paulo : “assalamualaikum paman Rian, assalamualaikum!” (sambil mengetok pintu)
Paman Rian : “waalaikumsalam nak, hmm anak pintar (sambil mengelus kepala Paulo). Bagaimana ngembala kambingnya, ada masalah nak?”
Paulo : “alhamdulillah tidak ada paman, tadi kambingnya memakan rumput dengan lahap, mungkin sebentar lagi kambing bisa dijual untuk berangkat ke Malaysia menemui Ibu, iyah paman?”
Paman Rian : “yah... bisa diatur nak, tapi nak harus belajar yang rajin agar bisa meraih prestasi yang banyak dan agar Ibu senang di Malaysia. Ok!”
Paulo : “wahh..., pasti itu paman, saya tidak akan pernah lupa untuk belajar, apalagi menulis hehe.. itu adalah hobi saya, menulis untuk Ibunda tercinta.
Paman Rian : “wahh bagus nak, lanjutkan menulismu yah biar menjadi penulis inspiratif agar kelak Ibu senang bahkan bangsa pun senang. Tapi, nak jangan lupa ibadah yah!”
Paulo : “siap paman (sambil hormat kepada pamannya)”
Paman Paulo : “nahh.. itu adzan magrib sudah berkumandang, ayoo kita ambil air wudhu, kita sholat berjamaah di masjid nak”
Paulo : “ayo paman, oh yah.. nanti sehabis sholat jangan lupa berdoa untuk kebaikan Ibu di Malaysia yah paman”
Paman Rian : “insya Allah”

@ Adegan 4
Hari semakin larut, bulan pun terus menyinari malamnya, bintang-bintang bertebaran menemani indahnya sang malam. Disaat orang-orang sedang tertidur lenyap di samudera kapuk. Beda halnya dengan Paulo yang mencari inspirasi di alam untuk menikmati indahnya suasana malam hari, sambil menggoreskan tinta-tintanya di dalam lembaran-lembaran pena.
Paulo : “akan saya goreskan terus tinta ini hanya untuk Ibunda tercinta di Negeri Jiran, suatu hari nanti goresan pena ini pasti akan membuat bahagia Ibu, tak ada cara lain untuk membahagiakan Ibu selain dengan meningkatkan hobi saya di bidang menulis.” (bergumam dengan sendirinya)
                   Krik... krik... krik... (bunyi suara jangkrik)
Paulo : “hai jangkrik, seandainya kamu bisa ngomong maka akan saya jadikan kamu sahabat di malam hari untuk tempat curhat”
                   Prokotok.. kotok.. tok... (bunyi suara kodok)
Paulo : “hai kodok, kenapa kamu bunyi begitu keras di malam hari?, apakah kamu ingin berbicara dengan saya?. Saya bosan dok hidup tiga tahun tanpa Ibu” (dengan wajah yang sedih)
                   Kemudian datanglah suara angin sepoi-sepoi.... sambil menikmati sejuknya suara angin, paulo memejamkan mata sejenak, sambil berdoa..
Paulo : “ya Allah, saya ingin bertemu Ibu di Malaysia, saya ingin memberikan tulisan lembaran-lembaran pena ini untuk Ibunda tercinta. Ya Allah, saya mohon kabulkan permintaan hamba. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.” (bergumam di dalam hati)

@ Adegan 5
Kuku ru yukkkk... (bunyi suara ayam berkokok), Paulo segera bangun dari tidurnya, kemudian membangunkan pamannya untuk mengambil wudhu dan sholat subuh berjamaah di Masjid. Seusai sholat subuh, seperti biasanya Paulo siap-siap untuk berangkat sekolah, kebetulan sekolahnya terletak di Kota yang jauh dari Desa. Sambil menikmati indahnya alam di subuh hari, Paulo dengan senang hati berjalan kaki dari Desa ke Kota untuk bersekolah.
Paulo : “hmmm tidak terasa sudah sampai di gerbang sekolah”
               Tiba-tiba datanglah Fikri dari arah belakang
Fikri : “dor... hahaha”
Paulo : “astagfirullah... Fikri, kau bikin kaget saja. Tidak baik tau Fik menyapa orang seperti itu, apalagi sahabat sendiri. Lain kali harus mengucapkan assalamualaikum. Ok!”
Fikri : “Ohh gitu yah, maaf deh Ul”
Paulo : “yaudah tidak apa, itu sebagai pelajaran kamu untuk selanjutnya”
Fikri : “Oke bos, hehe..., ohh yah Ul sehabis pulang sekolah kita main yu di danau belakang sekolah.”
Paulo : “tumben kamu mengajak saya di danau belakang sekolah, biasanya di perpustakaan.” (dengan wajah heran dan penuh tanya)
Fikri : “hehe.. yahhh, saya ingin mencari suasana yang berbeda, apalagi kamu kan suka menulis, nahh menulis di danau itu sangat cocok Ul, banyak inspirasi yang bakal kamu dapatkan, percaya de sama saya, hehe...”
Paulo : “oke de, saya tunggu di danau belakang sekolah, tapi jangan pakai lama”
Fikri : “siiip”

@ Adegan 6
Teng tong... (bel berbunyi, bertanda jam sekolah telah habis). Para siswa bersegera mungkin untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Beda halnya dengan Paulo dan Fikri yang pergi ke danau untuk mencari inspirasi.
Fikri : “Paul, bisakah kau ukirkan satu kalimat saja untuk saya mengenai danau ini?”
Paulo : “emangnya buat apa Fik, tumben amat?” (parut wajah yang penuh heran)
Fikri : “hehe... ingin menikmati indahnya danau ini melalui ukiran tulisanmu”
Paulo : “hmmm gitu toh, oke deh saya tuliskan khusus untuk mu, sebentar yah” (sambil mengukir tulisan)
Fikri : “oke deh saya tunggu”
Paulo : “ini satu kalimat khusus untuk mu Fik, hehe...”
Fikri : “subhanallah, tulisanmu indah, seindah danau ini”
Paulo : “oh yah?, kamu lebay Fik, tulisan saya tak seindah yang diukirkan oleh Imam Ghazali, Khairul Anwar, Syeh Nawawi, dan Al-Qarni.
Fikri : “paul, paul, kau tidak perlu rendah hati, saya bicara benar dari hati bahwa tulisanmu ini sangat indah Ul. Omong-omong kenapa  
Kamu suka menulis Ul?”
Paulo : “bisa aja kau Fik, hehe... sebenarnya saya suka menulis ketika ditinggal Ibu di Malaysia. Saat itu saya merasa kesepian tanpa Ibu, saya sering sendiri berdiam diri tak berarti di kamar. Ketika itu pula lah saya mengukirkan kisah cita Ibu di dalam lembaran-lembaran pena. Berawal dari itulah saya sangat menyukai menulis.” (dengan wajah yang membayangkan sang Ibunda)
Fikri : “ohh gitu yah Ul, kisahmu sangat menginspirasi, hanya karena Ibu, kamu mengukirnya di dalam lembaran-lembaran citamu itu. Kamu adalah anak yang berbakti kepada Ibu yang pernah saya kenal Ul.”
Paulo : “yah..., bagi saya Ibu adalah sosok yang luar biasa dan menjadi pembeda dari sosok pahlawan lainnya. Tanpa Ibu entahlah mau jadi apa hidup saya karena Ibu adalah pengendali mimpi saya, Fik”
Fikri : “baguslah kalau begitu Ul, lanjutkan karyamu semoga aja bisa mendunia. Ohh yah Ul, dengar-dengar bukumu sudah terbit yah?”
Paulo : “wahh tahu dari mana kau Fik, iyah alhamdulillah baru saja kemarin terbit.”
Fikri : “boleh saya lihat bukumu Ul?, saya ingin membaca sinopsisnya”
Paulo : “ohh.. boleh.. boleh, ini bukunya Fik” (sambil menyerahkan buku menggunakan tangan kanan)
Fikri : “wahhh... judul bukumu Mama?, subhanallah Ul.. ull, kamu sangat luar biasa. Sebentar yah saya baca sinopsisnya terlebih dahulu.”
Paulo : “ok Fik”
Fikri : “subhanallah, sinopsismu sangat menarik dan menginspirasi, saya sangat menyukainya Ul. Ohh yah Ul, kebetulan hari minggu besok saya pergi ke Kuala Lumpur bersama ayah untuk merayakan hari Ibu. Nahh karyamu ini sangat cocok dibedah di Kuala Lumpur, apakah kamu bisa ikut saya Ul?”
Paulo : “beneran Fik?, di Kuala Lumpur, Malaysia?, yah.. yah, saya sangat senang hati untuk menerima tawaran kamu Fik.” (dengan persaan senang hati)
Fikri : “baiklah kalau begitu, ini saya kasih tiket pesawat dan paspor untukmu Ul, dijaga baik-baik yah, jangan sampe hilang, saya tunggu di bandara yah besok. Assalamualaikum!”
Paulo : “waalaikumsalam, terima kasih ya Allah” (tersenyum bahagia)




@ Adegan 7
Singkat cerita, keesokan harinya tepat jam 9 pagi, Paulo bersama Fikri sudah berada di Negeri Jiran. Dari bandara Malaysia menuju tempat pesta di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), untuk membedah buku berjudul “Mama”
Paulo : “wahh.. ini yang namanya Negeri Jiran, negeri orang-orang Malaysia, posisi Ibu ada dimana yah Fik?” hmmm... (dengan wajah penuh tanya)
Fikri : “nanti kita cari bersama, asal kamu harus memberikan yang terbaik untuk bedah buku karyamu itu. Ok!”
Paulo : “Oke siap.”
            Singkat cerita, Paulo telah berhasil membedah buku hasil karyanya yang berjudul “Mama.” Tapi entahlah, setelah itu Paulo tiba-tiba berpisah bersama Fikri. Paulo merasa bingung harus dimana untuk mencari sang Ibunda.
Paulo : “Ibu..., Ibu ada dimana, saya sudah di Negeri Jiran bu, saya ingin ketemu Ibu memberikan hasil karya tulisan ini bu.” (raut muka sedih)
   Ketika hari beranjak gelap, Paulo pun beranjak pergi ke masjid dekat menara petronas. Seusainya sholat Paulo berdoa kepada Allah SWT.
Paulo : “ya Allah, tolong hambamu ini, saya butuh Ibu, saya ingin ketemu Ibu, saya ingin memberikan tulisan ini untuk Ibu. Tolong kabulkan permohonan hamba. Aamiin ya Allah.”
  Setelah selesai berdoa, Paulo pergi ke arah pintu samping, tiba-tiba Paulo melihat wajah Ibunya yang hendak pergi dari arah pintu belakang. Paulo pun langsung lari mengejar Ibunya.
Paulo : “Ibu... Ibu... Ibu tunggu paul (dengan teriakan penuh harap)

  Tiba-tiba wajah Ibunya hilang begitu saja. Paul pun duduk-duduk dengan perut kosong di depan menara petronas. Tidak disangka, sang Ibunda menepuk bahu Paul dari arah belakang.
Ibunda : “Paulo?” (tanya dengan suara lembut)
Paulo : (Paulo menoleh ke arah bekanag) “ahh... (kaget) Ibu....” (langsung memeluk sang Ibunda sambil menangis bahagia)
Ibunda : “nak, kau sendirian disini nak?” (sambil mengelus lembut punggung Paulo)
Paulo : “tidak bu, tadi saya kesini bersama teman, saya diundang teman untuk bedah buku yang berjudul Mama, ini bukunya bu.”
Ibunda : “subhanallah nak, Ibu bangga punya anak seperti kamu Paulo. Maafkan Ibu jika selama ini jarang pulang di Negeri Merah Putih.”
Paulo : “tidak apa bu, yang terpenting saat ini saya bisa bertemu Ibu, bisa memeluk Ibu, bisa memberi buku hasil karya saya ke Ibu, bisa bahagiakan Ibu karena prestasi Paul hingga ke negeri Jiran.” (sambil tersenyum bahagia)
Ibunda : “hehe.. anak pintar, mari nak kita makan dulu, sepertinya nak belum makan yah?”
Paulo : “iyah bu, saya belum makan sejak siang tadi karena seharian saya mencari Ibu disekitar menara kembar ini bu.”
Ibunda : “astagfirullah nak, ayo nak kita makan terlebih dahulu, agar nak tidak sakit.”
Paulo : “iyah bu, lagi pula perut saya sedang lapar banget bu, hehehe..”
Ibunda : “oh yah nak, hehe... anak yang kuat. Ayoo nak kita makan bersama.”
              Sambil makan di bawah menara kembar petronas, tiba-tiba Paulo melihat Fikri bersama ayahnya di tepi jalan.
Paulo : “Fikri... Fikri... kemari Fik.” (sambil melambai-lambaikan tangan)
Fikri : “ Pauloooo... ayah... ayah.. itu Paulo ada di bawah petronas, ayo kita kesana yah.” (sambil menunjukan jari telunjuk ke arah Paulo)
Paulo : “Fikri.. saya rindu kamu Fik.” (sambil memeluk persahabatan)
Fikri : “itu ibumu Ul?”
Paulo ; “iyah itu Ibunda yang paling saya cintai. Hehe...”
Fikri ; “bunda.. (sambil memeluk dengan hangat, Paulo pun ikut dipeluk sang Ibunda).
          Itulah kisah cita dari seorang penulis pemula yang sangat mencintai sang Ibunda. Baginya berbakti terhadap Ibu adalah nilai terpenting dalam kehidupan ini. Ibu adalah sosok pahlawan yang sangat luar biasa dan tak bisa terkalahkan dari pahlawan lainnya. Berkat Ibu, Paulo bisa menggali impiannya untuk menjadi penulis yang inspiratif bagi bangsa Merah Putih (Indonesia) hingga sampai di Negeri Jiran (Malaysia).




















0 komentar:

Post a Comment

Madi’s quotes


"Berkaryalah Selama Anda Masih Diberikan Nikmatnya Hidup Dan Menulislah Selama Anda Masih Diberikan Indahnya Kehidupan"— Madi Ar-Ranim

Visitors

Visitor Country

Flag Counter

Popular Posts

Visitor Country Map

Flag Counter