Sunday, February 2, 2014





Kasih Sayang Ibu untuk Anaknya
Sebuah kisah nyata dari kota kecil di Taiwan, kisah yang sudah lama tapi patut untuk dibaca dan direnungkan berulang-ulang kali. Betapa besarnya pengorbanan sang ibunda demi keberlangsungan hidup sang anaknya, dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, sang ibunda selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya. Berikut ini adalah kisah kasih sayang Ibu untuk anaknya.
Dikisahkan pada suatu hari tinggalah seorang anak disebuah kota kecil di Taiwan, ia biasa dipanggil dengan sebutan A be. A be banyak digemari oleh wanita disekitar Taiwan karena ia adalah orang yang rajin, ulet, cerdas dan cukup cool. Selain itu, ia menjabat sebagai manager disalah satu perusahaan swasta terkenal di Taiwan, gajinya lumayan besar. Beliau terkenal ramah di kantor tempat kerjanya, humoris dan gaya hidupnya yang sangat sederhana sehingga teman-teman kerjanya sangat senang bergaul dengannya, terutama wanita, bahkan seorang wanita owner diperusahaan tersebut menaruh perhatian khusus terhadap A be.
A be tinggal disalah satu rumah yang letaknya tidak jauh dari tempat kerjanya. Dirumahnya terdapat seorang wanita tua yang tampangnya menakutkan. Wanita tersebut nampak seperti monster yang mengerikan. Kepalanya botak terlihat seperti borok yang mengering, hanya tersisa sedikit rambut dibagian samping kiri dan belakangnya, selain itu mukanya cacat terpenuhi dengan luka bakar. Wanita tua tersebut tidak pernah keluar rumah dan jarang sekali keluar kamar jika tidak ada urusan yang sangat penting.
Wanita tua tersebut tidak lain adalah seorang Ibu yang selalu setia membantu anaknya, yaitu A be. Walaupun kondisi fisik yang cacat, sebagai layaknya seorang Ibu yang selalu mengerjakan tugas rumah seperti rutinitas Ibu rumah tangga yang sehat. Wanita tersebut tanpa kenal lelah untuk membereskan rumah, menyapu, mengepel, mencuci dan membersihkan seluruh ruangan di rumahnya. Selain itu, sang Ibu selalu memberikan perhatian lebih dan kasih sayang terhadap anak satu-satunya, yaitu A be.  
A be sebagai pemuda yang sehat sebagaimana layaknya pemuda lainnya, ia merasa malu dan sulit untuk mengakui ibunya yang dalam keadaan cacat tersebut. Suatu ketika itu, teman-teman A be mengunjungi rumahnya untuk silahturahmi. Teman-temannya curiga terhadap wanita cacat yang ada di rumah A be, bahkan sempat bertanya kepada A be, siapa wanita tua cacat itu, A be menjawabnya bahwa wanita tua cacat itu adalah pembantu ibunya dulu sebelum meninggal. Jawaban A be sempat terdengar oleh sang ibunda, beliau sangat sedih dan hanya bisa menelan pahit-pahit apa yang dijawab oleh A be. Berawal dari situlah sang ibunda tidak pernah keluar rumah dan jarang sekali keluar kamar, karena beliau khawatir terhadap anaknya yang tidak bisa untuk menjelaskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sama tentang sang Ibu.
Pada suatu ketika, sang ibunda sakit karena terlalu memikirkan apa yang dibicarakan oleh anaknya, hingga suatu hari kemurungannya semakin parah dan sakitnya pun semakin parah. Sang ibunda susah untuk bangun dari ranjangnya, beliau hanya bisa terbaring di kasur, tidak bisa untuk membereskan rumah. Pada akhirnya, A be lah yang menggantikan posisi ibunya untuk membereskan rumah, mulai dari mencuci, mengepel, dan menyapu. Hal itu dilakukan A be terus-menerus sebelum ibunya sembuh, ditambah dengan membeli obat buat sang Ibu sebelum dan sepulang kerja. Saat itu A be sangat jenuh dan capek dalam menghadapi masalah tersebut, ditambah lagi susahnya mencari pembantu di Taiwan, memang saat itu untuk mencari pembantu di Taiwan sangatlah susah, walaupun ada itupun sangat mahal.
Pada suatu hari ketika A be membersihkan lemari ibunya, ia menemukan sebuah kotak kecil yang dikira kotak itu berisi perhiasan milik sang Ibu. Ketika A be membuka kotak kecil tersebut, ternyata didalamnya hanya berisi sebuah foto seorang wanita cantik dan potongan koran lama. Ketika potongan koran lama itu dibaca, memberikan berita tentang perjuangan seorang wanita yang menolong anaknya dari peristiwa kebakaran, wanita tersebut memeluk erat-erat anaknya dengan sprei basah, sehingga terselamatkan dari api yang membara.
Wanita cantik tersebut menderita luka berat akibat kobaran api yang mengenai tubuhnya, sedangkan sang anak dalam pelukannya terselamatkan tanpa luka sedikitpun. Ketika membaca berita dari sepotong koran, A be yang cukup dewasa merasa iba dan mencari tahu tentang wanita cantik sebagai pahlawan perjuangan. Setelah data didapatkan oleh A be, ternyata wanita cantik tersebut adalah Ibu kandung A be yang sekarang sedang terbaring sakit tak berdaya di kamar tidur.
A be sebagai sang anak merasa bersalah dan ketika itu secara spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung, dengan menggenggam koran dan foto tersebut di dadanya. Saat itu juga A be langsung menghampiri ibunya dan bersujud disampingnya yang sedang terbaring di ranjang. Sambil menangis tersedu-sedu, A be meminta maaf dan memohon ampun atas dosa yang dilakukan terhadap ibunya. Sang ibu ketika itu ikut menangis, beliau terharu dengan ketulusan anaknya, kemudian sang ibu memaafkan sang anak.
Suasana rumah di kota kecil di Taiwan tersebut sekarang menjadi berbeda dari sebelumnya. A be tanpa pernah rasa malu untuk mengakui ibunya walaupun dalam keadaan cacat penuh dengan luka bakar, tapi A be dengan senang hati menerima keadaan ibunya. Bahkan A be sering mengajak ibunya pergi keluar rumah, padahal dahulu tidak pernah mengajaknya keluar rumah, bahkan keluar kamarpun tidak pernah. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur dan ketulusan hati anatara ibu dan anak. Pada suatu ketika, A be bersama ibunya belanja di supermarket, banyak yang memerhatikan wanita tua cacat tersebut, walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek menghadapinya. Kemudian peristiwa tersebut menarik perhatian wartawan yang ada di supermarket tersebut dan membawa kisah tersebut ke dalam media cetak dan media elektronik terkenal di Taiwan.   
Sahabatku yang budiman, ketika saya membaca kisah tersebut disalah satu media, hati saya tersentuh dan saya merasa bersalah karena hingga saat ini saya masih belum bisa memberikan yang terbaik untuk Ibu, padahal sang Ibu yang telah mengorbankan segalanya, hidup dan matinya hanya untuk sang anak tercinta. Begitu besar pengorbanan sang Ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan sang anak. Saya berharap kisah ini bukan hanya saya saja yang tahu dan terinspirasi, tetapi bisa dibaca oleh semua kalangan di dunia dan menginspirasi banyak orang.
         


Chek Video Dream Ibu  Di Sini





  

 


0 komentar:

Post a Comment

Madi’s quotes


"Berkaryalah Selama Anda Masih Diberikan Nikmatnya Hidup Dan Menulislah Selama Anda Masih Diberikan Indahnya Kehidupan"— Madi Ar-Ranim

Visitors

Visitor Country

Flag Counter

Popular Posts

Visitor Country Map

Flag Counter