Thursday, January 23, 2014



Mendengar enam kata yang diawali huruf B itu, sangatlah mudah untuk diucapkan. Banten.. oh.. Banten... engkau adalah bagian dari Jawa Barat yang diperjuangkan oleh Sultan Hasanudin kini telah menjadi profinsi di Indonesia. Senang hati ini ketika engkau menjadi mandiri, tanpa diperbudak oleh atasan. Kini engkau telah dipercaya oleh bangsa untuk menjadi profinsi yang kental dengan budaya badui, indahnya alam dibawah kaki Krakatau, dan uniknya hamparan ujung kulon yang terdapat Badak bercula satu. Tidak ada yang dapat memiliki sepertimu, enkau adalah harapan Indonesia, Banten.
Tapi, kiniengkau dipimpin oleh pemimpin yang pecundang yang tak mampu untuk mempertanggungjawabkan, ia hanya bisa menghancurkan engkau. Sedih dan kecewa ketika mendengar kabar dari tayangan di Surabaya, pemimpin Banten “Ratu Atut Chosiyah” didakwa korupsi. Malu dan sakit hati ini, ketika mengetahui kabar tersebut menyebar luas diberbagai media massa. Ditamvahkan kabar dari teman di kampus ITS, Surabaya menanyakan kepada saya, “Bagaimana kabar profinsi Banten?, apa yang akan kamu lakukan dari kondisi Banten saat ini?”. Saya hanya bisa diam dan menundukan kepala. Bingung untuk menjawab dan mengatasi masalah tersebut.
Berusaha untuk menghilangkan perasan bingung akan kondisi banten saat ini. Tapi, susah untuk dihilangkan, masih ada rasa prihatin akan kondisi Banten. Saya bawa liburan di Kota Bandung untuk sejenak menenangkan pikiran ini. Dari Surabaya ke Bandung, saya nikmati perjalanan dengan melihat pemandangan alam yang sangat indah, mungkin tidak dimiliki oleh Banten. Seusainya liburan, saya lanjutkan perjalanan dari Bandung ke Banten.
Enam bulan lamanya saya tidak berjumpa dengan Banten, kini saya datanf menemuimu untuk melihat kondisimu yang sesungguhnya. Sesampainya digerbang utama profinsi Banten, saya melihat tulisan dari Ratu Atut Chosiyah, “indahnya berbagi Pajak”. Ironis melihat tulisan tersebut, dirinya saja tidak mampu untuk melakukannya. Dilanjutkan perjalan hingga di tol Ciujung-Banten, terlihat rumah penduduk ditenggelami oleh air akibat akibat banjir, hanya atap riumah yang tersisa. Melihat kondisi seperti itu saya meneteskan air mata, ditambahkan warga setempat mengungsi dipinggiran tol Ciujung-Banten.
Sudah tidak kuat perjalanan ini melihat kondisi Banten yang semakin suram, saya bawa tidur untuk menenangkan pikiran dan perasaan ini. Tidak terasa Bis pun berhenti di gerbang tol Serang Timur bertepatan di Patung Pahlawan Serang-Banten. Lagi-lagi melihat kondisi Banten yang kacau, calon pemuda Banten, anak-anak SMP dan SMA tauran dan banyak diantaranya merokok dijalanan. Astagfirullah, beginikah kondisi Banten saat ini, seharusnya malu dengan Sultan Hasanudin yang sudah memperjuangkan Banten sejak dulu. Tapi, nyatanya saat ini pemimpin Banten sangat Pecundang, munafik, dan tidak mampu menghadapi masalah ini.
Dilanjutkan perjalanan menuju kampung halaman, di Kampung Warakas, Desa Kebonratu, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang-Banten. Ternyata keindahan dan kenyamanan itu terasa dikampung halaman ini, pemandangan yang begitu indah, hamparan sawah yang hijau begitu luas, sejuknya udara dengan tertiupnya angin sepoy-sepoy, ramahnya penduduk dengan ciri khas bahasa yang unik, ramainya anak-anak yang bermain menggunakan budaya anak zaman dahulu, pemuda yang pekerja keras untuk memberantas tangga kemiskinan, banyak bangunan santri yang mendidik agama islam, banyak warga yang berbondong-bondong pergi ke Masjid untuk beribadah, jika bertemu di jalan berjabat tangan sambil tersenyum, semuanya terasa indah dan nyaman di Kampung halaman ini. Mungkin kondisi itu tidak dimiliki oleh daerah lain, apakah anda tahu?, itu hanyalah mimpi-mimpi yang ingin saya raih, hanya kondisi seperti itulah yang saya inginkan untuk Indonesia dan kondisi seperti itulah harapan serta mimpi besar saya yang sesungguhnya. Membangun Banten dan Indonesia yang lebih baik akan keramahan dan keindahan alamnya.
Banten.. oh.. Banten.. walaupun engkau telah mandiri,tapi hambatan itu masih selalu ada pada dirimu. Walupun hambatan itu menerpamu, tapi masih ada yang menyejukanmu. Walaupun di luar engkau dipandang buruk, tapi masih ada yang di dalam mampu untuk memperbaikinya, yaitu sosok Generasi Negarawan muda yang berani membangun Banten untuk Indonesia tercinta. Ingat, bahwa Harapan itu masih selalalu ada.

0 komentar:

Post a Comment

Madi’s quotes


"Berkaryalah Selama Anda Masih Diberikan Nikmatnya Hidup Dan Menulislah Selama Anda Masih Diberikan Indahnya Kehidupan"— Madi Ar-Ranim

Visitors

Visitor Country

Flag Counter

Popular Posts

Visitor Country Map

Flag Counter